MASIGNASUKAv102
5501965594325482231

Fakta Fakta Menarik Gunung Lawu Sebelum Mendakinya

Fakta Fakta Menarik Gunung Lawu Sebelum Mendakinya
Add Comments
Selasa, 02 November 2021

Baca Juga

Fakta Fakta Menarik Gunung Lawu Sebelum Mendakinya. Gunung Lawu (3265 MDPL) terletak pada Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya pada perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung Lawu terletak di antara 3 kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kabupaten Ngawi, & Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Status gunung ini merupakan gunung barah "istirahat" (diperkirakan terahkir meletus dalam tanggal 28 November 1885[tiga][4]) dan telah lama tidak aktif, terlihat berdasarkan rapatnya vegetasi dan puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan mini yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai daerah hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, & hutan Ericaceous. Gunung Lawu merupakan sumber ide berdasarkan nama kereta barah Argo Lawu, kereta barah eksekutif yang melayani Solo Balapan-Gambir.

Fakta Fakta Menarik Gunung Lawu Sebelum Mendakinya


Gunung Lawu mempunyai 3 zenit, yakni Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan puncak tertinggi bernama Hargo Dumilah.i

Di lereng gunung ini masih ada sejumlah loka yg populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat masih ada dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh & Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum buat keluarga presiden ke 2 sunting sumber]

Cerita dimulai berdasarkan masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping lima (Pamungkas). Dua istrinya yg terkenal merupakan Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dara Petak melahirkan putra bernama Raden Fatah, ad interim Dara Jingga melahirkan putra bernama Pangeran Katong. Raden Fatah selesainya dewasa beragama islam, tidak selaras menggunakan ayahandanya yang beragama Budha. Bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Demak dengan pusatnya pada Glagah Wangi (Alun-Alun Demak).

Melihat kondisi yang demikian itu, hati Sang Prabu terusik. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semadinya didapatkannya wangsit yg menyatakan bahwa telah saatnya cahaya Majapahit memudar & wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu menggunakan hanya disertai pemomongnya yg setia Sabdopalon membisu-membisu meninggalkan keraton dan melanglang praja & pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum hingga di puncak , beliau bertemu menggunakan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi beserta ke zenit Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah, "Wahai para abdiku yang setia telah saatnya saya harus mundur, saya wajib muksa dan meninggalkan global ramai ini. Dipa Menggala, lantaran kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi seluruh makhluk mistik menggunakan wilayah ke barat sampai daerah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur sampai gunung Wilis, ke selatan sampai Pantai selatan, dan ke utara hingga dengan pantai utara menggunakan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat menjadi patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri menyampaikan kepada Sang Prabu: Jika demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah menggunakan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.

Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, & Sabdopalon moksa pada Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung & Kyai Jalak yang karena kesaktian & kesempurnaan ilmunya kemudian sebagai mahluk mistik yang sampai sekarang masih setia melaksanakan tugas sesuai sunting asal.

Gunung Lawu sangat terkenal buat kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Sura, poly orang berziarah menggunakan mendaki sampai ke puncak . Lantaran populernya, pada puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang kuliner.

Pendakian baku dapat dimulai dari tiga loka (basecamp): Cemorokandang pada Tawangmangu, Candi Cetho pada Karanganyar, Jawa Tengah, dan Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. .

Jalur pendakian melalui Cemorosewu lebih curam bila dibandingkan dengan jalur lainnya. Meskipun demikian, waktu yg dibutuhkan untuk hingga ke zenit lebih singkat. Jalur pendakian ini juga relatif tertata menggunakan baik. Jalannya terbuat menurut batu-batuan yang telah ditata. Pada jalur ini, pendaki akan melalui 5 pos & dua sumber mata air. Pertama, pendaki akan melalui sumber air bernama Sendang Panguripan yg terletak di antara Cemorosewu dan pos 1. 

Pendaki lalu melanjutkan pendakian sampai melewati pos 2 & pos tiga. Jalur pendakian setelah pos tiga hingga pos 4 telah berupa tangga yg terbuat dari batu alam. Ketika hingga pada pos 4, pendaki akan disuguhi pemandangan Telaga Sarangan dari kejauhan. jalur pendakian berdasarkan pos 4 menuju pos lima telah nir lagi securam jalur menuju pos-pos sebelumnya. Setelah pos 5, pendaki bisa menemukan asal air Sendang Drajat. Jalur pendakian melalui Cemorosewu tidak direkomendasikan bagi pemula yg ingin mendaki di malam hari.

Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter menggunakan jalur yg relatif telah tertata dengan baik.

Meskipun ketiga jalur pendakian tersebut sudah dikenal secara umum sang kalangan umum para pendaki yang ingin mendaki Gunung Lawu, sebenarnya masih ada satu jalur pendakian lain yg memiliki keunikannya tersendiri. Jalur pendakian tadi merupakan Jalur Pendakian Klasik Gunung Lawu via Singolangu. Jalur pendakian ini berada pada Singolangu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, atau lebih kurang tiga km berdasarkan Telaga Sarangan. Sesuai menggunakan namanya, jalur pendakian ini diyakini sebagai jalur pendakian tertua diantara seluruh jalur pendakian Gunung Lawu. 

Selain itu, jalur ini jua diyakini menjadi napak tilas Prabu Brawijaya V saat pergi ke Gunung Lawu untuk menghindari kejaran pasukan Raden Fatah. Di sepanjang jalur pendakian ini nantinya para pendaki akan menemukan beberapa situs yang diyakini menjadi petilasan Prabu Brawijaya V. Adanya situs-situs petilasan tersebut semakin pertanda bahwa jalur ini merupakan jalur pendakian tertua dan telah ada sejak usang.

Pendakian melalui Jalur Klasik via Singolangu akan melalui 5 pos, yakni Pos 1 Kerun-Kerun, Pos dua Banyu Urip, Pos 3 Cemaran, Pos 4 Taman Edelweis, & Pos lima Cokro Paningalan. Setelah melalui kelima pos tersebut, para pendaki akan sampai di Sendang Drajat, sebelum mencapai zenit Hargo Dalem & Hargo Dumilah. Medan yang akan dihadapi oleh para pendaki sangat komplet, mulai menurut medan yg landai hingga curam. Selain itu pada jalur pendakian ini kondisi alam sangatlah asri, menggunakan berbagai jenis vegetasi tanaman dan satwa yang dapat ditemui sepanjang perjalanan. Oleh karenanya, jalur pendakian Gunung Lawu via Singolangu mempunyai daya tarik tersendiri buat dicoba sang para pendaki yang sunting asal]

Objek wisata di sekitar gunung Lawu diantaranya:

  • Telaga Sarangan
  • Kawah Telaga Kuning
  • Kawah Telaga Lembung Selayur.
  • Wana wisata lebih kurang sunting asal

Gunung Lawu menyimpan misteri dalam masing-masing dari tiga zenit utamanya dan menjadi loka yg dimitoskan sebagai tempat sakral pada Tanah Jawa. Hargo Dalem diyakini menjadi tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Hargo Dumiling diyakini menjadi tempat pamoksan Ki Sabdopalon, ad interim Hargo Dumilah diyakini merupakan tempat yg penuh rahasia yang sering digunakan sebagai ajang sebagai kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon gunung Lawu adalah pusat aktivitas spiritual pada Tanah Jawa & bekerjasama erat menggunakan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran. Setiap orang yg hendak pergi ke puncaknya wajib tahu aneka macam larangan tidak tertulis buat nir melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan juga perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib sial .

aggnars

Halo sayang